kedaihitamputih

..

Saturday, September 24, 2011

Buku: BULEMBANGBU. Kisah Pahit Seorang Tahanan G30S


Buku: BULEMBANGBU. Kisah Pahit Seorang Tahanan G30S
Penulis: N.Syam.H
Terbitan: cipta pustaka
Harga: rm 30
Halaman: 262 muka surat
Daftar Isi:
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
BUDI KEMULIAAN
SALEMBA
- Menjadi Tukang Pijat
- Pertemuan Dengan Keluarga
- Santi Aji
- Pertemuan Keluarga yang Kedua
NUSA KAMBANGAN
PULAU BURU
- Unit – II
- Anak Kucing Mengisi Rantang
- Mengerek Bendera Merah Putih
- Nyolong Garam
- Menjadi Pengayam Atep, Kena Hukuman
-Apel Malam
- Menjadi Satgas Pemukul Sagu
- Sayur Perwira
- Dinas Di Dapur Barak
- Barak-III Menyunati Anak Pedesaan
- Anakku Kirim Surat Dengan Fotonya
- Dilema Pembebasan

PULANG
PENUTUP
TENTANG PENULIS

Saturday, September 17, 2011

Buku: NUNCA MAS. LAPORAN FINAL CONADEP: ARGENTINA PASCA JUNTA MILITER (1976-1983)


Buku: NUNCA MAS. LAPORAN FINAL CONADEP: ARGENTINA PASCA JUNTA MILITER (1976-1983)
Editor: Garda Sembiring, Bonnie Triyana & Bambang Agung
Penerjemah: Suma Mihardja, Ken B.Kusumanduru, Micheal D.Pambrastho & Lilik
Terbitan: People’s Empowerment Consortium (PEC)
Harga: rm 40
Halaman: 491 muka surat
Sinopsis:
Sementara di Argentina puluhan tahun sebelumnya, laporan CONADEP ( Komisi Nasional Orang Hilang) yang berjudul “Nunca Mas” (Jangan Lagi) telah menjadi sebuah bacaan yang populer, masuk dalam daftar buku bestseller pada masa itu. Kesaksian para korban dan survivor disimak dan dihayati oleh masyarakat sebagai sebuah cermin tentang kezaliman masa lalu di mana sekitar 10,000 – 30,000 orang dihilangkan oleh rezim militer (1975-1983). Suara-suara korban inilah yang menjadi landasan moral bagi upaya pencapaian keadilan dan reparasi yang berjalan selama lebih dari dua dekade. Semoga buku ini dapat memberi pencerahan dan inspirasi untuk perjuangan penegakan hak atas keadilan dan hak atas reparasi. Selangkah demi selangkah, pantang menyerah. Nunca Mas! – Galuh Wandita, Pengantar Edisi Indonesia

Tuesday, September 13, 2011

Buku: Asal Usul Sosial Golongan Kiri Melayu. Satu Analisis Berkenaan Kesatuan Melayu Muda.


Buku: Asal Usul Sosial Golongan Kiri Melayu.
Satu Analisis Berkenaan Kesatuan Melayu Muda.
Penulis: Rustam A.Sani
Penerbit: SIRD
Harga: RM 18
Muka surat: 80 halaman
Kandungan:
Pendahuluan
Singkatan
1. Sifat ‘Golongan Kiri Melayu’
2. Malaya dalam Tahun 1930-an: Asal Usul Perkembangan Politik Melayu
3. Kesatuan Melayu Muda (KMM) sebagai Perintis Golongan Kiri Melayu
4. Kemunculan Golongan Elit Bukan Tradisional
5. Melayu Raya: Negara Hasrat
6. Kesimpulan
Rujukan
Indeks
Tentang Penulis

Monday, September 12, 2011

Buku: ASEP SAMBODIA MENULIS. Tentang Sastra Indonesia dan Pengarang-Pengarang Lekra




HABIS!!
Buku: ASEP SAMBODIA MENULIS. Tentang Sastra Indonesia dan Pengarang-Pengarang Lekra

Penulis: Asep Sambodia

Terbitan: ultimus

Harga: RM 35

Halaman: 378 muka surat

Daftar Isi:
Sebuah Pencaharian ...Pengantar I. Sudharsono
Tentang Sastra Indonesia
1. Peta Politik Sastra Indonesia (1908-2008)
2. Wiji Thukul: Sekali Berarti, Sudah itu Mati
3. Ketika Anak-Anak Menjadi Kupu-kupu
4. Seno Gumira Ajidarma dan Kitab Omong Kosong
5. Merekonstruksi Sejarah Sastra Indonesia
6. Saut Situmorang: Lahir Seorang Besar dan Tenggelam Beratus Ribu
7. Sastra Perlawanan: Membaca Djoernal Sastra Boemipoetra (Abstrak)
8. Boemipoetra versus Goenawan Mohamad dan TUK (Bagian 1)
9. Boemipoetra versus Goenawan Mohamad dan TUK (Bagian 2)
10. Boemipoetra versus Goenawan Mohamad dan TUK (Bagian 3)
11. Boemipoetra versus Goenawan Mohamad dan TUK (Bagian 4)
12. Saat Situmorang dan “Politik sebagai Panglima” (Bagian 5-Habis)
13. Ariel Heryanto dan Sastra Indonesia yang Apolitis
14. Keith Foulcher dan Sastra Indonesia di Era Orde Baru
15. Kalatidha dan Tragedi 1965 di Indonesia
16. Teori Sastra New Historicism dan Kedudukan Sastrawan
17. Goenawan Mohamad dan Manikebu
18. Cicak dan Buaya dalam Puisi Indonesia Modern

Tentang Pengarang-Pengarang Lekra
1. Nyanyian Sunyi Seorang Pramoedya Ananta Toer
2. Menafsir Puisi-Puisi D.N. Aidit
3. Orang-Orang Lekra itu Cendekiawan Organik yang Dihilangkan Paksa dalam Gerakan Intelektual Indonesia
4. Penyair yang Menulis Naskah Pidato Politik Presiden Soekarno
5. Kenapa Pramoedya Menolak Wayang?
6. Membaca Agam Wispi
7. A.S. Dharta, Klara Akustia, dan Jogaswara
8. Cerpen-Cerpen Sastrawan Lekra
9. Soeharto dalam Puisi Putu Oka Sukanta
10. H.R. Bandaharo Menempuh Jalan Rakyat
11. Doa Chalik Hamid buat Soeharto
12. Taufiq Ismail Salah Tafsir Puisi Mawie Ananta Jonie
13. Sampai Kapan Perseteruan Lekra – Manikebu Kan Berakhir?
14. Pramoedya Ananta Toer dan “Tahun Pembabatan Total”
15. Basuki Resowo, Chiril Anwar, dan Lukisan Perempuan Telanjang
16. Sobron Aidit dan Buku yang Dipenjarakan
17. Amarzan Ismail Hamid dan Tahun Vivere Pericoloso
18. Sejarah Sastra Indonesia Modern Versi Bakri Siregar
19. Rivai Apin Menguak Teeuw
20. Fakta dalam Cerpen-Cerpen Martin Aleida
21. Adakah Duka Lebih Duka yang Kita Punya, Anantaguna?
22. Cerpen-Cerpen Seorang Soekarnois
23. Sahabat Agam Wispi
24. Penyair sebagai Pilar Kelima Demokrasi
25. Hesri Setiawan dan Memoar Pulau Buru
26. Usai Pembantaian Massal Itu
27. 1965: Perspektif Korban
28. Nyanyian Hersi Setiawan untuk Maharaja $oeharto
29. T.Iskandar A.S.: Komunis Pertama yang Sembahyang
30. Pensiun: Cerpen Pilihan Harian Rakjat
31. Keputusan Prambanan
32. Putu Oka Sukanta, Penyair Dunia dan Kanonisasi Sastra
33. Dari Diskusi Buku Dua Penyair Lekra di FIB UI Depok
34. Dari Diskusi Lekra dan Politik Sastra di bandung
Asep Hilang Meninggalkan Kenangan Perjuangan. Kata Penutup oleh Margiyo
Biodata Asep Sambodja

Saturday, September 10, 2011

Buku: Kepada Penyair Anjing. Kumpulan Puisi Matdon


HABIS!!
Buku: Kepada Penyair Anjing. Kumpulan Puisi Matdon

Penulis: Matdon

Terbitan: ultimus

Harga: RM 15

Halaman: 90 muka surat

Sinopsis:

PUISI-PUISI dalam buku ini, saya dedikasikan untuk para seniman yang berfikir realistis namun tidak menjual harga dirinya pada pemerintah/penguasa, yang nyata-nyata telah membuat rakyat sengsara, pemerintah yang telah menghina (ke) seni (an), dan menganggap seni adalah sampah, kemudian berpura-pura membuat event/festival seni untuk sekadar sembunyi dari dosa, agar saat ia merusak kota atau negara ini tidak nampak seperti Fir’aun.
Sungguh, pemerintah dzalim!!
Ucapan terima kasih kepada seniman yang pura-pura sangat nyeni dengan seabreg teori, namun nyatanya lupa diri bahkan menjual diri demi sesuap nasi. Terima kasih kalian telah memberi saya pelajaran berarti bagi bermuaranya kesadaran, bahwa perbuatan jahat bukan hanya merampok, memperkosa, korupsi, tapi juga menjual harga diri pada pemerintah dzalim.
Saya kasihan seniman yang demikian!!
Puisi-puisi yang ada dalam buku ini saya pilih dari hasil dialog batin berkali-kali; puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan kali, agar apa yang saya tulis bukan dendam tapi do’a, agar suara yang saya teriakkan dalam teks bukan cacian tapi dzikir indah, agar pesan yang saya sampaikan bukan khotbah tapi sebuah katarsis. Terlalu idealis?...mungkin juga, tapi – paling tidak – puisi masih punya arti daripada seniman yang menjilat pantat walikota pendosa, puisi lebih santun daripada ulama yang datang pada penguasa sambil menjinjing proposal, puisi lebih berharga ketimbang pimpinan pondok pesantren yang kaya raya namun tidak pernah memberi sodaqoh.
Puisi adalah dzikir sunyi.....
Matdon

Tuesday, September 6, 2011

Buku: KEPADA SENIMAN UNIVERSAL. Kumpulan Esai Sastra A.S. Dharta


HABIS!!

Buku: KEPADA SENIMAN UNIVERSAL. Kumpulan Esai Sastra A.S. Dharta

Editor: Budi Setiyono

Terbitan: ultimus

Harga: RM 30

Halaman: 246muka surat

Sinopsis:

A.S. Dharta, sastrawan kelahiran Cianjur. Lebih dikenal sebagai penyair dengan nama pena Klara Akustia. Dia adalah salah satu pendiri Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan sekjen pertama. Namanya mulai dikenal sejak esainya berjudul “Angkatan 45 Sudah Mampus” menggemparkan kesusastraan Indonesia dan menimbulkan polemic.
Pertentangan di masa lalu antara Lekra dan Manifest berakhir pada lingkup politik, tapi belum tuntas dalam tingkat konseptual dan emosional.
Kumpulan esai ini menjadi sebuah upaya untuk menghadirkan kembali pemikiran dan perdebatan yang muncul di tahun 1950-an, dalam tataran konseptual, ketika kepentingan politik belum muncul dan saling serang tidak dijadikan senjata.
Kumpulan esai ini kembali mencoba membuka dialog sejarah, bukan semata untuk generasi tua yang masih berseteru, tapi juga dengan generasi bawahnya.
Begitu sulitkah dialog yang tua dan muda?
Ketika itu tampanya sulit terwujud, sebuah esai A.S. Dharta yang di masanya menimbulkan polemic bias kembali dikedepankan, dalam bentuknya yang baru: “Angkatan Lekra sudah mampus, angkatan Manifest Kebudayaan sudah mampus, karena sudah bunuh-membunuh, hancur-menghancurkan.” Generasi baru mesti menegaskan sikap generasinya.

Saturday, September 3, 2011

Buku: Riau Berdarah ( Kisah Perjalanan Hidupku )


HABIS!!
Buku: Riau Berdarah ( Kisah Perjalanan Hidupku )
Penulis: Yoseph Tugio Taher
Terbitan: hasta mitra
Harga: rm 30
Halaman: 273 muka surat
Sinopsis:
Bagiku yang hidup di rantau ini, di samping segala kegembiraan yang kuperoleh, hatiku juga trenyuh dan menangis. Aku ingat akan teman-teman semasa muda, teman-teman semasa sekolah, teman-teman sependeritaan dalam tahanan, teman-teman yang diambil dari tahanan dan dibunuh ORBA tanpa diketahui di mana kuburnya, sanak saudara dan handai taulan yang terpaksa kutinggalkan demi menyelamatkan hidup ini, satu-satunya pemberian Tuhan yang paling berharga. Tanah tumpah darah, Indonesia pertiwi tercinta yang terpaksa kutinggalkan. Bangsaku yang kucintai.

Friday, September 2, 2011

Buku: KAPITALISME: Perspektif Sosio - Historis


HABIS!!!
Buku: KAPITALISME: Perspektif Sosio - Historis

Penulis: Dede Mulyanto

Terbitan: ultimus

Harga: rm 25

Halaman: 200 muka surat

Daftar Isi:

1. Pendahuluan
2. Feodalisme dan Asal-Usul Kapitalisme
Apa itu Kapitalisme?
Kapan Kapitalisme Muncul?
Borjuasi dan Moralitas Ekonomi Feodal
Perubahan Sosial-Ekonomi dan Perjuangan Borjuasi
Benih Perbankan Modern
Industri Feodal dan Sistem Pesanan
Runtuhnya Ekonomi Feodal
Perlawanan Ideologis Borjuasi

3. Borjuasi dan Revolusi Perniagaan
Borjuasi dan Feodalisme
Burgus. Kota-Kelahiran Borjuasi
Lahirnya Kesadaran Kelas Borjuasi
Kaum Mercatur dan Revolusi Perniagaan
Bullionisme
Monopoli Merkantilis
Merkantilis dan Negara-Bangsa

4. Kapitalisasi Produksi dan Revolusi Industri
Fisiokratisme
Kapitalisasi Produksi
Revolusi industri

5. Lahirnya Proletariat
Proletariat Feodal
Kebajikan Paternalistik
Proletariat Modern
Proletariat dan Kapital
Kapitalisme dan Pembebasan Perempuan
Proletariat dan Ideologi Borjuis

6. Akumulasi Primitif
Kapitalisme dan Corak Produksi Prakapitalis
Akumulasi Primitif dan Lahirnya Kapitalisme
Akumulasi Primitif Ekspansif
Kapitalisme, Akumulasi Primitif, dan Imperialisme
Akumulasi Lewat Penjarahan

7. Imperialisme
Tampilan Historis Imperialisme
Imperialisme dan Kurangnya Daya Konsumsi
Imperialisme dan Realisasi Nilai-Lebih
Imperialisme dan Ekspor Kapital
Krisis dan Imperialisme

8. Pertukaran
Kapital dan Pertukaran
Pertukaran Sederhana
Pertukaran Diam-Diam
Pertukaran Tetap
Logam dan Pertukaran Tetap
Landasan Sosial-Ekonomi Pertukaran Barang
Nilai-Guna dan Nilai-Tukar
Penakar Nilai-Tukar Barang
Beberapa Catatan tentang Teori Nilai-Kerja

9. Perdagangan
Perdagangan dan Sirkulasi Uang
Perdagangan dan Masyarakat Kelas
Pedagang Profesional
Uang dan Negara
Perbankan

10.Komoditi
Aspek-Aspek Komoditi
Asal-Usul Kesejarahan Komoditi
Komoditi dan Moralitas Prakapitalis
Komoditi dan Teori Harga yang Adil
Kapital dan Corak Produksi Prakapitalis

11. Kapital
Kapital
Komoditi dan Kapital
Kapital dan hukum Persaingan
Kapital-Tetap dan Kapital-Pengubah
Nilai-Lebih Absolut dan Nilai-Lebih Relatif
Penghisapan Nilai-Lebih dan Jatuhnya Tingkat Laba
Hukum Persaingan dan Ekspansi Kapital

12. Kapitalisme dan Semangat Perburuan Kekayaan
Kekayaan sebagai Tujuan
Rasionalisasi Bisnis
Puritanisme dan Individualisme Bisnis

Thursday, September 1, 2011

Buku: Mengapa Kami Memilih GOLPUT


HABIS!!
Buku: Mengapa Kami Memilih GOLPUT
Editor: KH Abdurrahman Wahid, Halim HD
Terbitan: SAGON
Harga: rm 25
Halaman: 182 muka surat
Daftar Isi:
PENGANTAR
“Golput dan Gairah Mencari Format Politik” (Halim HD)
KH ABDURRAHMAN WAHID
REVOLUSI PUTIH (Aguk Irwan MN)
BUKAN PEMILU, TAPI BOIKOT PEMILU (Ragil Nugroho)
CURHAT SEORANG GOLPUT (Moh. Sidik Nugraha)
GOL PUT DAN PROBLEMATIKA DEMOKRASI (Miftahul A’la)
GOLPUT SEBUAH PILIHAN KRITIS-TRANSFORMATIF (Subkhi Ridho)
GOLPUT SEBUAH PILIHAN RASIONAL (Zulfatun Ni’mah, M.Hum)
POLITIKUS TAK MAMPIR DI BAR DANGDUT (Binhad Nurrohmat)
SAATNYA GOLPUT MENJADI PEMENANG (M.G. Ghnoe)
GOLPUT, TRANSFORMASI POLITIK DAN DEMOKRASI RADIKAL
(M.ALI Fakih)
GOLPUT, SOLUSI DITENGAH PESIMISME (Fatkhul Anas)
GOLPUT TAK PERLU TAKUT (Ahmad Hasan MS)
MENGAPA KITA HARUS GOLPUT? (Muhibin AM)
GOLPUT DAN ANCAMAN DELIGITIMASI PUBLIK
(Muhammad Muhibbuddin)
GOLPUT DAN DEMOKRASI SALAH URUS (Fathor Rahman M.D)
MEMBACA FENOMENA GOLPUT (M.Sanusi)
MENGUKUR TINGKAT RASIONALITAS GOLPUT (Muhammad Yulian)
GOLPUT; “GOLONGAN PUTUS CINTA” (Gugun El-Guyanie)
MENGAPA ADA GOLPUT? (Taufik Damas)
GOLPUT DAN BAYANG-BAYANG SANG PAHLAWAN (Iman Budhi Santosa)
MENJADI GOLPUT, UNTUK INDONESIA LEBIH BAIK (Asrizal Luthfi)
KENAPA KAMI MEMILIH GOLPUT? (Deasy Elsara)
GOLPUT BUKAN SEKADAR KONTROL BAGI DEMOKRASI PROSEDURAL (Mukhotib MD)
AKU MEMILIH GOLPUT! (Yustisia Rahman)
MENGAPA KAMI MEMILIH GOLPUT? (Acep Zamzam Noor)
“PUISI” BERUSAHA MELAWAN LUPA (Acep Zamzam Noor)
BIODATA PENULIS